Custom Search

Monday, June 27, 2011

NC St national championship hero Charles killed

RALEIGH, N.C. (AP)—Lorenzo Charles, the muscular forward whose last-second dunk gave underdog North Carolina State a stunning win in the 1983 national college championship game, was killed Monday when a bus he was driving crashed along a highway, a company official said.
Elite Coach general manager Brad Jackson said Charles, 47, worked for the company and was driving one of its buses on Interstate 40. No passengers were aboard.
He grabbed Dereck Whittenburg’s 30-foot shot and dunked it at the buzzer to give the Wolfpack a 54-52 win over heavy favorite Houston and its second national title, sending coach Jim Valvano spilling onto the court, scrambling for someone to hug in what has become one of the lasting images of the NCAA tournament.
Whittenburg was despondent when discussing his teammate and friend with The Associated Press.
“It’s just an awful day,” Whittenburg said. “An awful, awful day.”
Charles secured his spot in N.C. State lore in the final moments of that game in Albuquerque, N.M., to cap off an improbable run to the championship. N.C. State entered the NCAA tournament with a 17-10 record, having beaten Virginia to win the Atlantic Coast Conference tournament and an automatic berth into the national field. No one expected much.
“It’s still kind of amazing to me that … people are still talking about it,” Charles said in an excerpt from his comments about the championship game on his N.C. State Web page. “I remember when (it) first happened, I figured I would have my 15 minutes of fame and that would be it. Here we are and it is still a conversational piece. I don’t really think that was the only great Final Four finish that has been played since then, but for some reason people just single out that game and talk about it. Maybe because it was such a David and Goliath thing.”
Police released little about the one-vehicle crash that took Charles’ life. Video shows the windshield broken out with tree limbs sticking through the window frame. The rear wheels of the bus were on an embankment, leaving the right front tire elevated from the road.

Charles finished his college career two years after the championship win with 1,535 total points—15th on the school’s scoring list—and his .575 shooting percentage in 1985 remains a school record for seniors.
In the 1983 run, Charles hit two free throws with 23 seconds left in the West Regional finals against the Cavaliers to give the Wolfpack a 63-62 win and the spot in the Final Four.
Their semifinal win over Georgia sent them to the matchup with the Cougars, known as Phi Slamma Jamma in those years and led by stars Clyde Drexler and Hakeem Olajuwon.
Michael Young, director of basketball operations at Houston, was a member of the team that let a national championship slip away. He told KRIV-TV in Houston that he’s never quite gotten over Charles’ heroics.
“For him to dunk the ball at that moment to win the game, it was one of the most heartbreaking moments I have ever felt in my whole career,” Young said. “Twenty-eight years later, it’s still with me. Every day somebody asks me about it. I thought I was going to get away with it today and then you called me. I’m very sorry to hear what happened.”

Valvano also became famous for his emotional burst onto the court afterward, running around almost in disbelief. Valvano died in 1993 after his public fight with cancer.
NC State retired Charles’ No. 43 jersey in 2008, the 25th anniversary of the championship.
Thurl Bailey, one of Charles’ teammates on the championship team, said it’s tough to accept that the player who made the game-winning dunk is gone.
“But I heard someone say, I was talking to them on the phone about this, that Jimmy V finally found somebody to hug,” Bailey told WRAL-TV.
Current coach Mark Gottfried said his staff had just gotten acquainted with Charles and was saddened to hear the news.

“He holds a special place in Wolfpack history and in the hearts of generations of fans,” Gottfried said in a statement. “We just reconnected with him last week and our staff was stunned to hear this terrible news.”
ACC Commissioner John Swofford said Charles’ play had an uplifting impact.
“As a former player, he made us believe in the amazing and all of us in the ACC send out our thoughts and prayers to his entire family,” Swofford said in a statement.

Saturday, June 25, 2011

Rafinha Yakin Muenchen Buldoseri Dominasi Barca



Rafinha hengkang dari Genoa untuk bergabung dengan raksasa Bundesliga, Bayern Muenchen awal Juni lalu. Rafinha telah menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun, yang akan berakhir pada 30 Juni 2014.
imageBersama Muenchen, Rafinha optimis jika klubnya dapat berbicara tak hanya di liga domestik tapi juga di kompetisi daratan Eropa musim mendatang. Oleh karena itu, ia yakin The Bavarians akan menjadi salah satu klub yang dapat menghentikan dominasi Barcelona di Liga Champion.

Keyakinan ini hinggap dalam benaknya, pasalnya, final Liga Champion selanjutnya akan dihelat di Allianz Arena, yang notabenenya markas dari skuad yang akan ditukanginya.
"Barcelona jelas favorit bagi saya. Mereka
adalah salah satu tim terbaik yang akan tercatat dalam sejarah sepak bola, dengan pemain lengkap yang mumpuni seperti Xavi, Iniesta dan Messi," kata Rafinha seperti yang dikutip dari Goal.com.

"Namun, saya yakin Bayern mempunyai modal untuk membuldoser mereka, sama halnya seperti Real Madrid, Chelsea, Manchester United dan AC Milan yang akan menjadi masalah besar bagi mereka," lanjut bek kelahiran Londrina, Brasil, 7 September, 25 tahun silam ini.

Button Meminta Bantuan Ferrari untuk Kalahkan Vettel


Hingga mendekati paruh musim 2011, Vettel masih bercokol di puncak klasemen sementara pembalap. Driver Red Bull tersebut mencatatkan hasil gemilang dengan lima kemenangan dari total tujuh balapan yang sudah dilakoni.

Vettel mengoleksi 161 poin, meninggalkan jauh para pesaingnya seperti Jenson Button, Mark Webber, Lewis Hamilton, atau Fernando Alonso.

Jenson Button adalah penguntit terdekat Vettel. Pembalap McLaren itu memiliki nilai 101 sejauh ini.

Button berpendapat bahwa untuk menghentikan dominasi Baby Schumi tidak bisa bila hanya dilakukan oleh dirinya seorang.

"Kami membutuhkan lebih dari saya dan Lewis Hamilton untuk bisa bersaing dengan Sebastian Vettel. Kami juga butuh Ferrari," tandas juara dunia 2009 itu dikutip dari Guardian.

Button mengakui bahwa berharap Ferrari tampil bagus juga berisiko bagi dirinya dan McLaren. "Jika Ferrari tampil lebih cepat dibanding kami maka mereka bisa merebut poin dari kami, jadi ini situasinya sangat tricky," kata eks Brawn GP itu.

"Namun saya pikir kami lebih memilih mengambil risiko dengan berharap Ferrari kompetitif dan kami berharap bisa melakukan tugas kami lebih baik dibanding mereka."

Button berharap Fernando Alonso bisa segera mendapatkan konsistensi dan bisa tampil baik dengan stabil dari seri ke seri. "Sebastian tetaplah orang yang menjadi sasaran untuk dikalahkan, namun mobil Fernando menunjukkan performa bagus di Kanada," tambah pria asal Inggris tersebut.

"Ferrari memiliki DRS yang sangat efisien. Fernando melakoni sejumlah balapan di mana dia merasa bisa meraih hasil lebih baik lagi. Dalam salah satu balapan di 'kandang' sendiri, Fernando akan termotivasi," tuntas Button merujuk pada GP Eropa yang dilangsungkan di Valencia, besok.

Ferrari Puaskan Alonso


Setelah duduk di posisi tiga sesi latihan bebas pertama, Alonso mematahkan keunggulan pembalap Red Bull dan gantian menjadi pemuncak catatan waktu free practice kedua. Hasil positif juga diraih Felipe Massa yang berurut-turut duduk di posisi enam dan lima.

Meski mengingatkan timnya untuk tetap realistis di kualifikasi dan balapan, Alonso mengaku puas dengan kemajuan pesat yang dibuat timnya.

"Secara keseluruhan, ini start yang positif untuk akhir pekan di Valencia. Kami bisa menjalani semua program yang direncanakan, bekerja terutama pada ban mencari batas kemampuan hingga akhirnya meningkatkan performa," sahut Alonso di Autosport.
Kondisi mobil yang oke plus lintasan yang memungkinkan melakukan overtaking membuat pembalap Spanyol itu optimistis bisa meraih hasil bagus di akhir pekan ini. Namun begitu Alonso tak bisa memprediksikan siapa kandidat pemenang pada balapan Minggu (26/6/2011) besok malam.

"Di FP1 dan FP2 Anda mencoba banyak hal dan lintasan berubah dengan sangat cepat, jadi tak mungkin membuat prediksi. Sebelumnya kami pernah meraih hasil bagus di hari pertama namun kalah sampai satu detik di kualifikasi, jadi terlalu dini membandingkan kami dengan yang lain."

Friday, June 24, 2011

Sports Service

Why should you consider our sports service – Lets be honest, how many of you are being dominated by sportsbooks, and online casinos. Statistics have shown, only 20% of self-advised sports handicappers will win on any given weekend, at best. It's also not surprising that 95% of the betting public has no clue how Vegas arrives at their lines. It’s safe to say, the series of power ratings the oddsmaker uses to generate lines can be flawed at times. Our mathematical models and information are independent from the oddsmakers in that we recognize weak and flawed lines, which try to sway the betting public in the wrong direction. For over 2 decades Sportrends premium Internet service has set new standards and given new meaning to the word dominance with 22 consecutive winning seasons.
What Separates our sports service from the crowd? - Obviously we are not the only guys in the sports industry who've built sophisticated, unbiased and effective sports ranking systems however doing it right takes a computational skill set that the vast majority of individuals do not possess. 
What can Sportrends do for you? -Since 1987 we have tested various propriety applications and power rankings for predicting the winners of games and projecting how teams will perform in every sport. Although performance always varies by sport and by season nearly every year our methods outperform benchmarks including the so called "expert" opinions and crowd wisdom at picking game winners and provide the foundation for profitable sports competition and wagering strategies with measured risk.
Premium Internet Advisory Service - The strength of our advisory service is ultimately measured by our track record. Since 1987 Sportrends has shown results and has guided our valued customers to many winning seasons and you can expect us to continue in our traditional winning ways.

Markis Kido/Hendra Setiawan Lolos ke Semifinal

ADE BAYU INDRA/"PR"PEBULUTANGKIS pasangan Ganda Putra Indonesia Hendra Setiawan (kanan) dan Markis Kido saat bertanding melawan pasangan ganda putra Denmark Mathias Boe dan Carsten Mogensen, pada Djarum Indonesia Open 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (24/6). Pasangan tersebut berhasil menang dua set langsung dengan skor 21-13, 22-20.*
JAKARTA, (PRLM) - Pasangan ganda putra Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan berhasil mengalahkan unggulan pertama pasangan Mathias Boe/Carsten Mogensen dua set langsung 21-13, 22-20 dan melaju ke semifinal turnamen bulutangkis Djarum Indonesia Terbuka Super Series Premier 2011 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (24/6).
Markis Kido/Hendra Setiawan sejak awal menerapkan pola menyerang dan mampu mengusai jalannya pertandingan. Penempatan bola yang tepat sering membuat mati langkah pasangan asal Denmark. Unggulan ketujuh itu terus menekan dan hasilnya mampu merebut set pertama dengan skor 21-13.
Memasuki set kedua permainan kedua pasangan begitu ketat. Tetapi berkat ketenangan, Markis Kido/Hendra Setiawan mampu melepaskan diri dari tekanan unggulan pertama itu. Hasilnya, pasangan terbaik Indonesia ini mampu mengambil set kedua dengan skor 22-20 dan berhak lolos kesemifinal Indonesia Open 2011.
Di semifinal Markis Kido/Hendra Setiawan akan ditantang pasangan asal China Cai Yun/Fu Haifeng yang sebelumnya mengalahkan pasangan Korea Selatan Ko Sung Hyun/Yoo Yeon Seong 21-16, 21-19. (das)***

Ketenangan Jadi Kunci Kemenangan


Detiksport/Resha Pratama
Jakarta - Markis Kido/Hendra Setiawan sukses membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan teratas, Mathias Boe/Carsten Mogensen, di perempatfinal. Ketenangan di lapangan jadi kunci kemenangan mereka.

Bertanding di hadapan ribuan pendukungnya yang memadati Istora Senayan, Jumat (24/6/2011), Kido/Hendra tampil luar biasa. Mereka sukses memulangkan pasangan Denmark itu dua set langsung 21-13 dan 22-20 dalam waktu 35 menit.

"Kita cuma mencoba mengembangkan permainan kita. Mereka (Boe/Mogensen) bagus di bola-bola atas, kita mencoba menurunkan bola ," kata Hendra seusai pertandingan.

"Kita hari ini lebih tenang. Mereka juga tidak tampil sebaik biasanya. Mereka biasanya lebih bagus," tambahnya.

Lawan berat kembali menanti mereka di semifinal, yakni duo China, Fu Haifeng/Cai Yun. Saat ditanya soal peluang mereka, Hendra mengaku masih berimbang.

"Masih 50-50. Mereka serangannya juga bagus. Strateginya masih sama dengan lawan Denmark," ujar Hendra.

Sementara Boe/Mogensen mengakui bahwa Kido/Hendra tampil sangat baik hari ini. Mereka mengaku kesulitan meladeni permainan ganda Indonesia itu.
"Markis dan Hendra bermain sangat baik hari ini. Kami kesulitan menghadapi mereka. Mereka bermain lebih baik," tutur Boe.

"Kami suka bermain di sini dengan keriuhan penontonnya. Sangat menyenangkan bermain di sini," pungkas dia.

Kido/Hendra Tumbangkan Ganda Terbaik Dunia

Markis Kido dan Hendra Setiawan [google] Markis Kido dan Hendra Setiawan [google]
[JAKARTA] Ganda putra terbaik Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan tampil membanggakan. Mereka lolos ke semifinal turnamen Indonesia Open Superseries Premier 2011 dengan menumbangkan pasangan nomor satu dunia asal Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen 21-13, 22-20, Jumat (24/6).

Kido/Hendra langsung tampil menyerang di game pertama. Dukungan pendukung yang memadati Istora Senayan, Jakarta menjadi penyemangat mereka, sehingga langsung unggul 7-2. Boe/Mogensen mencoba mengejar. Mereka mempersolid permainan.

Kido/Hendra tidak mau kalah mereka semakin tampil lebih cepat dan terus memimpin hingga akhir pertandingan dengan skor 21-13. Game kedua berlangsung lebih ketat. Boe/Mogensen mulai menemukan ritme permainan mereka. Kido/Hendra sempat tertinggal 2-3 di awal game.

Pasangan peringkat enam dunia itu berusaha memperbaiki penampilannya dan kembali unggul 6-3.
Persaingan semakin panas ketika Kido/Hendra memimpin 20-18. Boe/Mogensen tidak mau menyerah begitu saja. Mereka meningkatkan tempo permainan dan mengejar perlahan-lahan sampai akhirnya menyamakan kedudukan 20-20. Dukungan penonton membuat mental ganda kebanggan
Indonesia itu bangkit dan mengakhiri permainan 22-20.

“Kami menerapkan permainan sendiri saat menghadapi mereka. Sepertinya, mereka agak sedikit tertekan. Mungkin karena pengaruh penonton dan tempat pertandingannya. Kami senang bisa menang,” ujar Hendra seusai pertandingan.

Sementara itu, Mathias Boe menilai Kido/Hendra bermain dengan luar biasa. Mereka bermain di luar dugaan.

“Kami selalu menang atas mereka. Tetapi, kali ini mereka tampil sangat bagus dan sulit dikalahkan. Kami benar-benar kecewa,” ujar Boe.

Kemenangan ini mematahkan torehan buruk Kido/Hendra yang tidak pernah menang saat menghadapi Boe/Mogensen. Di tiga pertemuan sebelumnya, ganda Indonesia itu selalu menuai kekalahan.
Pertemuan terakhir ganda papan atas dunia itu terjadi di BWF

Superseries Final pada Mei lalu. Saat itu, Boe/Mogensen mengalahkan Kido/Hendra 21-12, 23-21. Tahun 2010 lalu, mereka juga menang 21-13, 21-12 di Denmark Open. [Y-8]

Kido-Hendra Ungkap Kunci Kemenangan

Markis Kido-Hendra Setiawan.(foto:SINDO)
Markis Kido-Hendra Setiawan.(foto:SINDO)
JAKARTA – Hanya satu kata yang pantas untuk merepresentasikan perasaan Hendra Setiawan, yaitu bahagia. Maklum, bersama pasangannya, Markis Kido, Hendra berhasil meraih kemenangan atas unggulan ganda putra teratas Denmark, Mathias Boe-Carsten Mogensen.

Kendati sempat mendapat kesulitan di akhir set kedua, Kido-Hendra akhirnya keluar sebagai pemanang dalam pertandingan tersebut 21-13, 22-20. Dengan gesturnya yang tenang, Hendra menjelaskan bahwa kunci kesuksesannya terletak pada agresivitasnya untuk bermain di depan.

“Dalam permainan tadi, kami hanya menerapkan pola permainan kami sendiri. Kami berusaha untuk dulu-dulan main di depan,” kata Hendra dalam jumpa persnya usai pertandingan.

Terkait deuce yang terjadi dalam pertandingan di akhir set kedua, Hendra menjelaskan bahwa dirinya ingin sesegera mungkin menyelesaikan pertandingan, yang dampaknya justru membuat mereka kehilangan banyak angka. “Kami ingin cepat selesai, ini yang membuat kami mati sendiri,” sambungnya.

“Tempat agak pengaruh di set kedua karena kami menang angin. Kami menarik bola dan kami tidak bermain net,” lanjut Hendra.

Dalam kesempatan yang sama, Hendra coba memberikan alasan konkret mengapa unggulan Denmark itu bisa dengan mudah dikalahkan. Mungkin mereka agak tegang dan mereka tidak bermain lepas

“Peluangnya 50-50,” kata Hendra menyinggung laga di semifinal kontra pasangan kuat China, Cai Yun/Fu Haifeng.
JAKARTA – Hanya satu kata yang pantas untuk merepresentasikan perasaan Hendra Setiawan, yaitu bahagia. Maklum, bersama pasangannya, Markis Kido, Hendra berhasil meraih kemenangan atas unggulan ganda putra teratas Denmark, Mathias Boe-Carsten Mogensen.

Kendati sempat mendapat kesulitan di akhir set kedua, Kido-Hendra akhirnya keluar sebagai pemanang dalam pertandingan tersebut 21-13, 22-20. Dengan gesturnya yang tenang, Hendra menjelaskan bahwa kunci kesuksesannya terletak pada agresivitasnya untuk bermain di depan.

“Dalam permainan tadi, kami hanya menerapkan pola permainan kami sendiri. Kami berusaha untuk dulu-dulan main di depan,” kata Hendra dalam jumpa persnya usai pertandingan.

Terkait deuce yang terjadi dalam pertandingan di akhir set kedua, Hendra menjelaskan bahwa dirinya ingin sesegera mungkin menyelesaikan pertandingan, yang dampaknya justru membuat mereka kehilangan banyak angka. “Kami ingin cepat selesai, ini yang membuat kami mati sendiri,” sambungnya.

“Tempat agak pengaruh di set kedua karena kami menang angin. Kami menarik bola dan kami tidak bermain net,” lanjut Hendra.

Dalam kesempatan yang sama, Hendra coba memberikan alasan konkret mengapa unggulan Denmark itu bisa dengan mudah dikalahkan. Mungkin mereka agak tegang dan mereka tidak bermain lepas

“Peluangnya 50-50,” kata Hendra menyinggung laga di semifinal kontra pasangan kuat China, Cai Yun/Fu Haifeng.

Ganda Putra, Singkirkan Denmark

Ganda Putra, Singkirkan Denmark, Kido-Hendra Maju ke Semi Final

Jumat, 24/06/2011, 15:28 WIB


Ist/Internet
Pasangan ganda putra Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan mengaku lebih percaya diri untuk menghadapi pertadingan semi final Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2011 melawan pasangan Cai Yun/Fu Haifeng di Istora Senayan, Sabtu (25/6/2011).

Rasa percaya diri unggulan ketujuh Indonesia Open ini muncul setelah mampu mengalahkan unggulan pertama asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen 21-13, 22-20 di lapangan dua Istora Senayan, Jakarta, Jumat (24/6/2011).

"Kemenangan ini jelas membuat percaya diri kami naik, apalagi pada beberapa pertandingan sebelumnya selalu kalah," kata Hendra Setiawan usai pertandingan.

Menurut dia, calon lawan yang akan dihadapi di semi final bukanlah pasangan yang lemah. Selama ini telah sering bertemu bahkan keunggulan tetap pada calon lawan. Meski demikian, pihaknya tidak mau menyerah begitu saja atas pasangan China itu.

"Peluangnya fifty-fifty. Yang jelas kami ," katanya Hendra menambahkan.

Ditanya jalannya pertandingan saat menghadapi unggulan pertama asal Denmark, Hendra mengaku cukup ketat meski akhirnya mampu menang dengan dua set langsung.

Selama bertanding, kata dia, menerapkan pola permainan yang selama ini menjadi ciri khasnya yaitu menyerang. Namun, pola menyerang bukan tanpa halangan karena membuat terlalu pencaya diri dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh lawan.

"Pengennya cepet menang, tapi malah mati sendiri," kata Hendra menegaskan.

Mantan juara dunia itu mengaku lawan yang dihadapi dibabak perempatfinal tidak memberikan kemampuan terbaiknya. Padahal, selama ini unggulan pertama Indonesia Open itu bermain dengan keras dan kompak.

"Performa lawan menurun dan kami menang angin terutama diset kedua. Akhirnya kami mampu memenangkan pertandingan," katanya Hendra dengan senyum khasnya.   (Aef/At)

Thursday, June 23, 2011

Free Practice I MotoGP Belanda

Free Practice I MotoGP Belanda Simoncelli Unggul di Lintasan Basah


Latihan bebas pertama berlangsung di atas lintasan Sirkuit Assen yang basah, Kamis (23/6/2011). Simoncelli yang membela tim Honda Gresini tampil sebagai pembalap tercepat dengan catatan waktu terbaik 1 menit 49,036 detik.

Rossi memberi harapan bisa tampil baik ketika menghela Ducati-nya menempati peringkat kedua dengan 1 menit 49,396 detik. Di sesi ini, Rossi menjajal sasis Ducati buat tahun 2012 tapi dengan mesin 800cc.

Stoner yang tengah berada di puncak penampilannya belakangan ini mencatat waktu 1 menit 49,527 detik. Berada di tempat keempat adalah rekan setim Stoner di Repsol Honda, Andrea Dovizioso, dengan waktu 1 menit 49,640 detik.

Juara dunia 2010 Jorge Lorenzo tampil dengan livery merah-putih untuk memperingati 50 tahun partisipasi Yamaha di GP motor, tapi ia cuma menempati peringkat kelima dengan waktu 1 menit 49,995 detik.

Hasil FP I MotoGP Belanda
Pos Pembalap Tim Waktu Selisih
1. Marco Simoncelli Gresini Honda 1m49.036s
2. Valentino Rossi Ducati 1m49.396s + 0.360s
3. Casey Stoner Honda 1m49.527s + 0.491s
4. Andrea Dovizioso Honda 1m49.640s + 0.604s
5. Jorge Lorenzo Yamaha 1m49.995s + 0.959s
6. Cal Crutchlow Tech 3 Yamaha 1m50.386s + 1.350s
7. Karel Abraham Cardion Ducati 1m50.413s + 1.377s
8. Colin Edwards Tech 3 Yamaha 1m50.968s + 1.932s
9. Nicky Hayden Ducati 1m51.277s + 2.241s
10. Ben Spies Yamaha 1m51.590s + 2.554s
11. Hector Barbera Aspar Ducati 1m52.646s + 3.610s
12. Hiroshi Aoyama Honda 1m53.132s + 4.096s
13. Alvaro Bautista Suzuki 1m53.164s + 4.128s
14. Toni Elias LCR Honda 1m53.323s + 4.287s
15. Loris Capirossi Pramac Ducati 1m53.348s + 4.312s
16. Kousuke Akiyoshi Gresini Honda 1m53.353s + 4.317s
17. Randy de Puniet Pramac Ducati 1m53.562s + 4.526s

Dua Ganda Putra ke Perempatfinal

Jakarta - Perjalanan Angga Pratama/Ryan Agung Saputra dan Mohammad Ahsan/Bona Septano di Indonesia Open Super Series 2011 sudah sampai di babak perempatfinal. Mereka mengalahkan lawan masing-masing di babak kedua.

Bertanding di Istora Senayan, Kamis (23/6/2011), Angga/Ryan membuat "kecewa" ratusan penonton wanita yang memenuhi tribun penonton. Pasalnya, mereka mengalahkan si tampan asal Korea Selatan, Lee Yong Dae, yang berpasangan dengan Jung Jae Sung.

Angga/Ryan, yang lolos dari babak kualifikasi, mampu mengejutkan Lee/Jung, yang ditempatkan sebagai unggulan kedua. Mereka menang dua set langsung 21-17 dan 21-17.

Selanjutnya, Angga/Ryan akan menghadapi pemenang duel Ingo Kindervater/Johannes Schoettler (Jerman) versus Chai Biao/Guo Zhendong (China).

Dalam pertandingan sebelumnya, Ahsan/Bona harus berjuang keras untuk mengakhiri perlawanan Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu (China Taipei). Mereka harus bertarung tiga set sebelum akhirnya menang dengan skor 21-19, 16-21, dan 21-12.

Di perempatfinal, Ahsan/Bona akan menantang pemenang pertandingan Ko Sung Hyun/Yoo Yeon Seong (Korea Selatan) kontra Chen Hung Ling/Lin Yu Lang (China Taipei).

Tuesday, June 14, 2011

Timnas Sedang Diambang Prustasi

Kami percaya jika PSSI diurus oleh orang-orang yang berkompeten dibidangnya, maka sepak bola Indonesia akan maju. Messi-messi dari segala penjuru Indonesia akan terbit. Bahkan bukan tidak mungkin mereka nanti akan menjadi bintang dan bermain diklub-klub besar dibenua eropa yang tentunya menjadi kebanggaan bagi bangsa dan negara.

Satu hal yang perlu diingat, keberhasilan timnas Indonesia mencapai final atau mungkin menjadi juara adalah keberhasilan pelatih, pemain, dan juga keberhasilan pecinta sepak bola Indonesia. Bukan merupakan keberhasilan presiden ataupun keberhasilan politikus dan PSSI.

Keberhasilan timnas Indonesia dikarenakan keberhasilan Alfred Riedl sebagi pelatih dengan kedisiplinan yang luar biasa diterapkannya kepada para pemain tanpa pandang bulu. Seorang Boaz Salossa yang sudah merupakan langganan timnas pun bisa dicoret karena tidak disiplin. Selain itu, peningkatan permainan para pemain timnas Indonesia pada semua lini juga cukup membanggakan. Kemudian, perpaduan antara senior dengan junior yang dilakukan oleh Alfred Riedl terbilang sangat-sangat memuaskan.

Terlepas dari saling klaim tersebut, tidak ada yang boleh mengklaim bahwa keberhasilan ini adalah keberhasilan mereka. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan dari pelatih, pemain dan juga masyarakat Indonesia. Bukan keberhasilan Presiden, Politikus, atau ketua PSSI sekalipun. Ketika timnas Indonesia sedang diambang prustasi, dimana anda semua? pendukung timnas Indonesia selalu ada disaat mereka kalah dan disaat mereka menang karena pendukung timnas Indonesia sangat mencintai mereka.
.